Thursday, January 31, 2013

Lambang Jawa Timur dan Jer Basuki Mawa Beya

Lambang Jawa Timur
(Jer Basuki Mawa Beya)

Wong jawa iku aja nganti ilang jawane, orang jawa itu jangan sampai sudah tidak tahu atau paham tentang budayanya (budaya jawa). Salah satu hal yang paling umum dan sering kita lihat adalah lambang atau logo Jawa Timur. Logo ini merupakan salah satu perwujudan dasar dan nilai-nilai hidup sebagai orang jawa, khususnya Jawa Timur.
Lambang Jawa Timur berbentuk perisai dengan bentuk dasar segi lima. Lambang ini terdiri dari gambar bintang, tugu pahlawan, gunung berapi, pintu gerbang candi, sawah ladang, padi kapas, bunga, roda dan rantai. 

Advertisment



Lambang Daerah Jawa Timur sendiri ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 1966 tentang Penetapan serta Penggunaan Lambang Daerah Jawa Timur. Mengalami penyempurnaan melalui Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 7 Tahun 1973 yang kemudian disempurnakan lagi melalui Peraturan Daerah Propinsi Dati I Jawa Timur Nomor 3 Tahun 1974 dengan menambahkan kata ‘Jer Basuki Mawa Beya’ sebagai motto Jawa Timur.
Lambang bentuk perisai, adalah lambang keamanan dan ketentraman serta kejujuran. Hal ini melambangkan dasar dan keinginan hidup rakyat Jawa Timur yang merupakan daerah termasuk aman;
Bintang dengan warna kuning emas adalah lambang Ketuhanan Yang Maha Esa, bersudut lima dan bersinar lima adalah melambangkan Pancasila merupakan dasar dan falsafah negara yang senantiasa dijunjung tinggi dan selalu menyinari jiwa rakyatnya (dalam hal ini rakyat Jawa Timur) khususnya jiwa Ketuhanan Yang Maha Esa.
Tugu Pahlawan, adalah lambang kepahlawanan, untuk melukiskan sifat dan semangat kepahlawanan rakyat Jawa Timur (khususnya Surabaya) dalam mempertahankan kedaulatan dan wilayah tanah airnya.
Gunung berapi, yang selalu mengepulkan asap melambangkan semangat, keteguhan dan kejayaan tekad Jawa Timur dengan semangat dinamis, revolusioner pantang mundur dalam menyelesaikan revolusi menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur, selain itu juga menggambarkan bahwa wilayah Jawa Timur mempunyai banyak gunung-gunung berapi.
Pintu gerbang candi dengan warna abu-abu, melambangkan cita-cita perjuangan serta keagungan khususnya Jawa Timur di masa silam yang masih nampak dan sebagai lambang batas perjuangan masa lampau dengan masa sekarang, yang semangatnya tetap berada di tiap-tiap patriot Indonesia yang berada di Jawa Timur.
Sawah dan ladang, yang dilukiskan pada bagian-bagian dengan warna kuning dan hijau, melambangkan kemakmuran yaitu bahwa Jawa Timur memiliki sawah-sawah dan ladang-ladang yang merupakan sumber dan alat untuk mencapai kemakmuran.
Padi dan kapas, lambang sandang pangan yang menjadi kebutuhan pokok rakyat sehari-hari, gambar padi berbutir 17 buah, sedangkan kapas tergambar 8 buah, melambangkan saat-saat keramat buat bangsa Indonesia yaitu tanggal 17-8-1945.
Sungai yang bergelombang menunjukkan bahwa Jawa Timur mempunyai banyak sungai, yang cukup mengalir untuk mengairi sawah-sawah dan sumber-sumber kemakmuran lainnya di Jawa Timur.
Roda dan rantai, melukiskan situasi Jawa Timur pada masa sekarang yang sudah mulai pesat pembangunan pabrik-pabrik dan lain-lain dalam rangkah pembangunan Jawa Timur di bidang industri, dan melambangkan pula tekad yang tak kunjung padam serta rasa ikatan persahabatan yang biasa ditunjukkan oleh rakyat Jawa Timur kepada pendatang/peninjau dari manapun.

Advertisment



Pita berisikan tulisan Jawa Timur, menunjukkan sebagai lambang daerah Propinsi Jawa Timur (nama propinsi).
Pita dasar dengan warna putih berisi tulisan JER BASUKI MAWA BEYA, menunjukkan motto Jawa Timur yang mengandung makna bahwa untuk mencapai suatu kebahagiaan diperlukan pengorbanan. Pengorbanan atau beya di sini dalam arti luas, yang meliputi pengorbanan biaya dan pengorbanan lain, baik materiil maupun non materiil.
Dalam bahasa Jawa kata “Basuki” mengandung arti selamat sejahtera, lahir dan batin. sesuatu yang menjadi cita-cita orang Jawa pada umumnya. Guna mencapai “Basuki” maka “Mawa beya” berarti membutuhkan biaya. “Beya” disini tidak berarti uang, walaupun pada jaman sekarang semuanya perlu dihitung dengan uang. ”Beya” dapat diartikan “input” untuk mencapai “basuki”.  Pemikiran kita, waktu kita, kerja keras kita, pengorbanan kita, semua adalah input. Semua adalah modal. Tidak ada sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Semuanya harus digali sendiri oleh manusia dari bumi.  Kita tidak boleh “njagakake endhoge si blorok” dan orang yang “thenguk-thenguk nemu kethuk” memang ada tetapi kasuistik saja. Amat langka kejadiannya. Apalagi kalau dikaitkan dengan pembangunan, jelas tidak mungkin.

Sebagai motto Jawa Timur, ‘Jer Basuki Mawa Beya’ senantiasa menjadi landasan untuk menggugah kesadaran berkorban dalam gairah usaha membangun guna mencapai kebahagiaan bersama. Selain itu, motto tersebut mempunyai nilai yang bersejarah karena merupakan sebagian dari perkembangan Jawa Timur dalam suasana pelaksanaan pembangunan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, yang menjadikan Jawa Timur mengalami kemajuan pada banyak bidang dalam rangka pembangunan nasional.
“Jer Basuki Mawa Beya” adalah pesan untuk kita semua: Perorangan, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Semangat “Jer Basuki Mawa Beya” membangunkan kita semua untuk meningkatkan keikhlasan berkorban, meningkatkan partisipasi dalam pembangunan di segala bidang untuk mengisi kemerdekaan yang telah kita bayar dengan “beya” darah dan air mata.

Semoga bermanfaat dan menambah greget untuk menggapai basuki

Sumber:
http://www.jatimprov.go.id/site/lambang-daerah/
http://aconkz.student.umm.ac.id/
http://aconkz.student.umm.ac.id/